jump to navigation

Rudy Mana yang PaLing Sukses? November 4, 2008

Posted by pakjappy in Serba Serbi.
Tags:
1 comment so far

Saya ingat waktu di SMA dulu, kami (murid) harus menjalani test IQ untuk  penjurusan. Sekolah saya menetapkan bahwa murid2 dengan IQ tinggi bisa masuk ke jurusan IPA/Science. Murid dengan IQ sedang hanya bisa masuk jurusan Sosial dan yang paling rendah IQnya hanya diijinkan untuk masuk ke jurusan Bahasa.
Aturan di sekolah saya ternyata berlawanan dengan aturan dari SMA swasta terkenal di
Yogyakarta yang mengarahkan anak-anak yang ber IQ paling tinggi justru ke jurusan Bahasa.
Sewaktu saya diskusi dengan Romo Mangun Wijaya (Alm) tentang kurikulum sekolah, Beliau mengatakan bahwa pen didikan di
Indonesia masih mewarisi "budaya" kolonial Belanda.

Menurut beliau, seharusnya anak-anak yang kecerdasannya tinggi seharusnya diarahkan untuk masuk jurusan Sosial supaya di masa mendatang akan lahir ekonom, hakim, jaksa, pengacara, polisi, diplomat, duta besar,politisi dsb yang hebat2. Tetapi rupanya hal itu tidak dikehendaki oleh penguasa (Belanda). Belanda menginginkan anak-anak yang cerdas tidak memikirkan
masalah2 sosial politik. Mereka cukup diarahkan untuk menjadi tenaga ahli/scientist, arsitektur, ahli computer, ahli matematika, dokter, dsb yang asyik dengan science di laboratorium (pokoknya yang nggak membahayakan posisi penguasa). Saya nggak tahu persis yang benar Romo Mangun Wijaya atau pemerintah Belanda. Hanya saja waktu itu saya yang kuliah ambil jurusan Kurikulum jadi patah semangat karena kayaknya kurikulum di
Indonesia ini hampir tidak ada hubungannya dengan kehidupan yang akan dijalani orang setelah keluar dari sekolah.

Kita bisa lihat, Insinyur yang menjadi politisi bahkan memimpin parlemen,kemudian dokter (umum) bisa menjadi kepala Dinas P & K atau tenaga marketing, sarjana theologia yang jadi pengusaha, dsb. Sampai saat ini,masih banyak orang tua dan masyarakat yang beranggapan bahwa anak yang hebat adalah anak yang nilai matematika dan science-nya menonjol.
Paradigma berpikir orang tua/masyarakat ini sangat mempengaruhi konsep anak tentang kesuksesan. Bulan Juni 2003 yang lalu, lembaga tempat saya bekerja mengadakan seminar anak-anak.

Di depan 800-an anak, Kak Seto Mulyadi (Si Komo) menunjukkan 5 Rudy.

- Yang Ke-1 : Rudy Habibie (BJ Habibie) yang genius, pintar bikin pesawat dan bisa menjadi presiden.
- Yang Ke-2 : Rudy Hartono yang pernah beberapa menjadi juara bulu tangkis kelas dunia.
- Yang Ke-3 : Rudy Salam yang suka main sinetron di TV
- Yang Ke-4 : Rudy Hadisuwarno yang ahli di bid. kecantikan dan punya byk salon kecantikan di bbrp
kota.
- Yang Ke-5 : Rudy Choirudin yang jago masak dan sering tampil memandu acara memasak di TV.

Sewaktu Kak Seto bertanya "Rudy yang mana yang paling sukses menurut kalian?" Hampir semua anak menjawab "Rudy Habibie" Sewaktu ditanyakan "Mengapa, kalian bilang bahwa yang paling sukses Rudy Habibie?"
Anak-anakpun menjawab "Karena bisa membuat pesawat terbang, bisa menjadi presiden, dsb" Sewaktu Kak Seto menanyakan "Rudy yang mana yang paling tidak sukses?" Hampir seluruh anak menjawab "Rudy Choirudin" Ketika ditanyakan "Mengapa kalian mengatakan bahwa Rudy Choirudin bukan orang yang sukses?"

Anak-anakpun menjawab "Karena Rudy Choirudin hanya bisa memasak"

Memang begitulah pola pikir dan pola asuh dalam keluarga dan masyarakat Indonesia pada umumnya yang masih menilai kesuksesan orang dari karya-karya besar yang dihasilkannya. Masyarakat kita banyak yang belum bisa melihat kesuksesan adalah pengembangan talenta secara optimal sehingga bisa dimanfaatkan dalam kehidupan yang dijalaninya dengan "enjoy".

Banyak masyarakat kita yang beranggapan bahwa IQ adalah segala-galanya.
Padahal kenyataannya EQ, SQ dan faktor2 lain juga sangat menentukan. Dalam seminar tsb Kak Seto hanya ingin merubah paragidma berpikir anak-anak (dan juga orang tua/keluarga) . Anak-anak dan orang tua harus menyadari dan mensyukuri setiap talenta yang diberikan oleh Tuhan.

Bila talenta tersebut dikembangkan dengan baik, maka kita bisa mencapai kesuksesan di "bidangnya". Jadi untuk anak-anak yang tidak pintar matematika, anak2 tidak perlu minder dan orang tua tidak perlu malu atau menekan anak. Anak-anak yang lebih menyukai pelajaran menggambar dari pada pelajaran2 lain, bukanlah anak-anak yang bodoh karena justru anak2
yang punya imajinasi tinggilah yang pintar menggambar/ melukis. Anak-anak yang suka ngobrol, kalau kita arahkan bisa saja kelak menjadi politisi atau negotiator yang baik.

Anak-anak yang banyak bicara, kalau diarahkan untuk menuliskan apa yang ingin dibicarakan bisa2 menjadi penulis yang hebat. *** Mbak Dwi Setyani juga mengingatkan kita untuk lebih memfokuskan pada kekuatan kita dari pada "wasting time"
bersungut-sungut, hanya memikirkan kelemahan kita.

Saya pernah membaca pengalaman hidup seorang penyanyi di Amerika. Penyanyi tsb dulunya tidak PD karena wajahnya tidak terlalu cantik dan giginya tonggos. Saat menyanyi di pub, dia repot mengatur bibirnya supaya giginya yang tonggos tidak dilihat orang. Hasilnya: ia hanya bisa menghasilkan suara yang pas-pasan. Ketika temannya meyakinkan bahwa giginya yang
tonggos itu bukanlah masalah, maka iapun bisa menyanyi dengan bebas dan meng-eksplore suara emasnya. Ternyata rang-orang mengingat penyanyi itu karena kualitas suaranya, bukan parasnya yang jelek dengan gigi tonggosnya.

*** Kitapun meyakini bahwa Tuhan menciptakan setiap kita (manusia)dengan maksud yang terbaik demi kemuliaan-Nya. Kalau saja kita meyakini hal tersebut, maka semua orang akan mensyukuri keadaan dan memanfaatkan talenta yang Tuhan berikan untuk kemuliaan-Nya.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Beasiswa S2 dan S3 Untuk Dosen September 8, 2008

Posted by pakjappy in Serba Serbi.
add a comment

Jagong Bose August 8, 2008

Posted by pakjappy in Serba Serbi.
Tags:
add a comment

Apakah gerangan Jagong Bose itu? Bagi orang Kupang pada umumnya, makanan ini sudah sangat akrab dengan lidah. Pertanyaan berikut, di manakah Kupang itu? Walaupun sebenarnya ini adalah pertanyaan yang sedikit konyol dan lagi akan menyinggung perasaan orang Kupang seperti saya, tapi pada kenyataannya pertanyaan ini sangat sering dilontarkan oleh teman-teman saya saat mengetahui bahwa saya berasal dari Kupang. Masih teringat jelas potongan-potongan dialog sedih waktu saya menuntut ilmu ke Kota Pahlawan beberapa tahun silam, tepatnya saat saya berkenalan dengan orang baru, kira-kira demikian :

orang baru :  kenalin, saya orang baru

saya :  saya

orang baru :  asli mana Mas?

saya :  Kupang

orang baru :  kok sampeyan kost?  kan rumahnya dekat,

cuma sekali naik angkot dari sini

(maksudnya Dukuh Kupang, salah satu daerah di Surabaya)

saya :  bukan itu Mas, tapi Kota Kupang, ibukota Nusa Tenggara Timur.

Satu daratan dengan Timor Timur

orang baru :  oooooooooo……..

saya :  Uuuuffhhh…! (bernapas lega) (dalam hati: akhirnya tahu juga)

orang baru : Orang Kupang makan nasi juga?

***** THE END *****

Demikianlah dialog singkat tadi terjadi beberapa kali. Tidak pada tempatnya jika saya harus menyalahkan teman saya karena bolos mata pelajaran Geografi waktu SMP atau memang pada dasarnya tidak tertarik pada  mata pelajaran tersebut. Yang pasti, reaksi spontan saya adalah bersedih hati alias bermuram durja. Mengapa? Karena Kupang tidak akrab di telinga dibandingkan dengan kota-kota lainnya di kawasan Indonesia Timur yang memiliki ciri khas masing-masing, seperti: Jayapura/Papua (emas, hasil tambang), Ambon (pisang, penyanyi), Manado (hasil perkebunan, bubur, gadis manado), Makassar (baju bodo, perahu Pinisi, daerah asal JK), Denpasar/Bali (pariwisata) bahkan Dili/Tim-Tim (konflik, propinsi termuda). Ya, benar bahwa kita punya kayu Cendana atau sandalwood, bahkan Timor disebut juga Nusa Cendana, tapi itu duluuuuu…. Sekarang, kalau mau mencari kayu cendana dengan kualitas baik dan bernilai seni tinggi, lebih banyak dapat anda temui di Bali.

Saya tidak bermaksud membuat anda (khususnya orang Kupang) merasa rendah diri tapi tulisan ini lebih merupakan tantangan bagi kita untuk menjual kota tercinta ini lebih luas lagi. Saya yakin masih banyak potensi yang terpendam di sini, masih banyak “gadis cantik” yang bisa kita rias, masih banyak trik yang bisa kita mainkan, salah satunya adalah Jagong Bose! (akhirnya kembali juga ke Jagong Bose)….

Jagong Bose adalah makanan khas daerah ini yang terdiri dari jagung khusus dan kacang-kacangan yang rasanya sangat sedap. Jagong Bose disajikan dengan kental berkuah dan rasanya tidak lengkap jika tidak ditemani dengan Sambal Lu’at! Apaan tuh? Sambal Lu’at adalah temannya Jagong Bose! Wah, benar-benar jawaban yang tidak menjawab ya..! Maaf, sebenarnya adalah Sambal Lu’at adalah sejenis sambal yang dibuat dari cabe rawit dan kulit jeruk. Rasanya pedas (tentu saja) dan dijamin akan dirindukan selalu oleh mereka yang mengaku sebagai penggemar makanan pedas! Wah, hampir lupa nih dengan yang namanya daging Se’i Sapi! Daging Se’i atau daging asap memang sangat menggoda, mulai dari baunya sampai tampangnya yang tanpa dosa, eh, tanpa tulang itu…. Aduh, jadi lapar…… By the way, dimana saya bisa menemukan rumah makan di Kupang yang menyediakan Jagong Bose + Sambal Lu’at + daging Se’i Sapi?

Ada nggak ya? A  d  a   n g g a k   y a?  K a y a k n y a . . . . . . . . . . .